Preprint / Version 1

Literasi Media Baru, Ketidakberpikiran dan Esensi Kemanusiaan di Era Digital

##article.authors##

  • Eka Nada Shofa Alkhajar Universitas Sebelas Maret

Keywords:

Media Sosial, Esensi Kemanusiaan, Teknologi, Desa Global, Banalitas, Literasi Media, Literasi Media Baru, Media Baru

Abstract

Internet adalah kata kunci penting dan basis utama kehadiran era digital. Penemuan internet tidak dapat dimungkiri telah membawa perabadan manusia ke arah yang semakin modern, canggih dan praktis. Batas ruang dan waktu yang selama beberapa dekade sebelumnya menjadi halangan utama, semisal, dalam hal berkomunikasi kini menjadi runtuh dan luruh. Orang-orang dari berbagai penjuru dunia kini dapat terkoneksi satu sama lain dengan sangat cepat, murah dan mudah. Akhir kata, pikat era digital dan gemerlap media baru jelas sangat menggoda dan menyilaukan. Ada yang berhasil menggunakannya untuk meneguhkan esensi kemanusiaannya. Namun, ada pula yang gagal sehingga hanya terjebak dalam jeratan dan tarikan dehumanisasi. Satu hal yang pasti, literasi media baru tak lain adalah sebuah jalan untuk menjaga dan menyelamatkan kemanusiaan kita di era digital.  

References

Alkhajar, E. N. S. (2014). Media, Masyarakat dan Realitas Sosial. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

Arendt, H. (1963). Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil. New York: Viking Press.

Jenkins, H., Purushotma, R., Weigel, M., Clinton, K., & Robinson, A. J. (2009). Confronting the Challenge of Participatory Culture: Media Education for the 21st Century. Cambridge: MIT Press.

McLuhan, M. (1964). Understanding Media: The Extensions of Man. New York: McGraw-Hill.

Toffler, A. (1970). Future Shock. New York: Bantam Books.

Toffler, A. (1980). The Third Wave. New York: Bantam Books.

Published

2020-09-21

Section

Preprints